Thursday 26 February 2009

'Love is A Chemical Process!'

Tahukah Anda jika selama ini cinta yang pernah Anda rasakan itu adalah sebuah bagian dari proses kimia, sebuah proses yang membuat Anda merasakan sesuatu yang 'aneh' pada diri Anda.
Meskipun kita tahu cinta sendiri ga selalu datang dari 'mata turun ke hati'. Namun dalam sebuah penelitian cinta justru datang dari indera menuju rasio dulu, maksudnya dari mata diolah ke otak sebelum menuju ke hati. Sehingga otaklah yang jadi 'pusat pengendali' proses cinta itu.
Memang cinta datang lewat indera dari mata, hidung, kulit ataupun telinga. Sinyal-sinyal dari alat indera itu lantas merangsang otak untuk memproduksi sejumlah senyawa kimia yg kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Otherway, Love is chemical process, not just emotions!!
So, bukan sesuatu yang aneh jika orang jatuh cinta suka tersenyum tersipu-sipu, wajah memerah, tangan berkeringat dingin atau nafas jadi tak teratur. That's all chimical process of love. Para ahli mengatakan, seperti dikutip dari Time Magazine, ada tiga tahap proses kimiawi cinta :
1. Terkesan atau penjajakan
Adanya kontak antara alat indera dari dua org yang akan jatuh cinta, bukan hanya pandangan mata tapi bau badan, pengalaman psikologis, perkembangan dan faktor genetik bisa ikut membangkitkan reaksi-reaksi romantis. Hal ini mungkin bisa menjelaskan mengapa seseorang nggak bisa memberikan alasan kenapa ia tertarik pada pasangannya. Mungkin ia punya pengalaman psikologis atau bahkan faktor keturunan yang membuatnya tertarik pada melati dan bukan mawar, padahal banyak orang bilang, mawar lebih cantik dan seksi.
2. Ketertarikan
Reaksi-reaksi romantis pada tahap satu tadi merangsang produksi senyawa phenylethylamine, maupun senyawa lain seperti dopamine dan norepinephrine di bagian otak, Sebuah senyawa yang bila mengalir ke seluruh tubuh akan menimbulkan perasaan gembira dan bahagia. Namun senyawa phenylethylamine-lah yang paling penting dalam cinta karena efeknya bisa membuat orang tersenyum malu-malu dan bahagia bila berjumpa dengan orang yang disukainya.
Sayang, tahap ini tak berlangsung lama karena ada keterbatasan tubuh dalam menghasilkan senyawa itu, hanya sekitar dua sampai empat tahun saja. So apa boleh buat rasa tertarik pada seseorang menurut para ahli akan berakhir setelah kebutuhan phenylethylamine tak bisa dipenuhi otak lagi.
Para ahli menyebut tahap ketertarikan itu sebagai "kegiatan empat tahun". Untuk melihat tahap ini Helen Fisher, pengarang buku ANATOMNY OF LOVE, meneliti perkawinan dalam 62 budaya masyarakat.
Hasilnya, tingkat perceraian tertinggi ternyata ada pada usia perkawinan empat tahunan. Namun ia tidak menyimpulkan bahwa perkawinan yang lebih dari empat tahun hanya pura-pura rukun.
3. Pengikatan
Disini tubuh menghasilkan senyawa endorphins, sejenis morfin yg berfungsi menenangkan dan mengurangi rasa sakit. Efek dari senyawa ini adalah timbulnya perasaan damai, aman dan tenteram. Itu sebabnya jika seseorang ditinggalkan pasangannya, ia menjadi gelisah dan marah. Karena tak ada lagi produksi endhorpins alami, sehingga kemungkinan mereka akan mencari gantinya dengan endhorpins buatan yang didapat dari narkotik atau alkohol. Namun dengan dosis berlebihan endhorpins buatan itu justru akan merusaknya.
Tahap ke tiga inilah yang lebih penting dalam kelangsungan hubungan cinta. Jika hanya sebatas 'mabuk kepayang' maka orang cenderung mudah ganti pasangan begitu produksi phenylethylamine habis.
Hubungan cinta akan makin langgeng jika produksi endhorphins itu terus mengalir. Artinya "Mencintai Seseorang Sebagaimana Adanya Orang Itu" kata Mark Gaulston, psikiater dari Universitas California, AS.
4. Persekutuan kimiawi
Kelenjar otak kecil mengeluarkan oxytocin yang membangkitkan rasa nikmat selama bermain cinta dan menghasilkan perasaan puas. Ini yang membuat sepasang manusia kian rukun dan intim.
So, kalau begitu darimana datangnya cinta? Dari indera mampir ke otak baru turun ke hati atau mungkin Anda memiliki terori sendiri tentang cinta? Yang pasti cinta selalu memberi sebuah pengalaman berharga bagi Anda, entah bagaimana proses cinta itu terjadi. It's Love!

No comments:

Post a Comment